REVOLUSI HIJAU : PESSIN Vs PESNAB

Hama dan penyakit ibarat pisau bermata dua bagi tanaman budidaya. Ketiganya seperti lingkaran setan yang saling mengait, memanggil satu sama lainya, dimana terdapat tanaman budidaya disana pasti ‘nongol’ hama, buntutnya penyakit akan timbul (beberapa hama merupakan vektor penyakit) hingga menurunkan hasil produksi, baik kuantitas maupun kualitas.

Selama ini (seumuran penulis, 29 tahun) petani lebih banyak bergantung terhadap pestisida sintetis / kimiawi untuk membasmi hama dan penyakit, padahal pemakaian sesuatu yang ‘berbau’ kimiawi secara berlebih tidak saja akan menjadikan biaya produksi membengkak tapi juga membahayakan ekosistem, konsumen, terlebih kesehatan petani, karena umumnya petani di negeri ini tak menggunakan peralatan pelindung yang layak.

“Lek gak okeh ga cespleng, mas !”. itu adalah ungkapan kebanyakan petani kita, kalo gak banyak ga akan manjur !. Tak heran bila kita bermain-main ke sawah acapkali terlihat botol, kaleng atau plastik sisa pestisida dimana-mana. Anehnya di tiap botol atau kaleng itu tidak mencantumkan dosis yang dapat dengan mudah ‘dicerna’ petani, yang tertulis hanya dosis dalam takaran ‘sekian gram’ atau ‘sekian mili liter’. Tak pernah tertulis ‘2 tutup botol untuk 1 tangki sprayer 14 liter’ atau ‘satu sendok makan untuk 1000 tanaman kubis’. Ingat, petani kita tak mengerti ‘pyrex’ ataupun gelas ukur.

Beberapa hal yang menakutkan akibat penggunaan pestisida sintetis / kimiawi berlebih antara lain ;
1. Hama menjadi kebal (resisten).
2. Ampas (residu) kimia dari pestisida mengendap pada tanaman karena pestisida sintetis sulit terurai matahari.
3. Makin bayaknya hama akibat pemakaian pestisida yang tak efektif (resurjensi)
4. Terbunuhnya musuh alami, seperti Hippodamia convergens dan Chrysoperla externa yang mampu mematikan kutu daun.

Paradoks.
Perlu untuk disadari dan direnungkan, bahwa secara tidak sadar kita juga ikut andil menambah ketergantungan petani akan pestisida sintetis. Sayuran seperti apa yang sukai? Ya, tentu saja sayuran yang segar dan bersih. Segar karena baru petik dari pekarangan atau sawah dan bersih dari segala kotoran, termasuk jangan sampai ada ulatnya. Ulat memang bikin kita jijik dan menghilangkan selera makan kita.

Logika umum pasti mengatakan, kucing saja ga akan sudi makan ikan atau daging yang diawetkan dengan formalin apalagi manusia. Hanya saja karena indera penciuman manusia tak setajam kucing terjadilah kejadian seperti tahun lalu, Bakso formalin atau mie formalin

Analogi serupa sebenarnya juga berlaku untuk kasus sayuran ataupun produk pertanian lainya. Kalo ulat saja ga mau makan, kenapa masih ngotot? TANYA KENAPA?… Perlakuan dan tuntutan kita akan produk pertanian yang ‘bersih’ dari ulat telah menyudutkan petani untuk terus berlomba dan mencari pestisida (insectisida) yang “cespleng” membasmi segala rupa ulat. Tak perduli jenis dan tingkat racun pestisida yang digunakan.

Ironi, mereka (petani) jarang –bahkan mungkin tak pernah- diajarkan oleh penjual pestisida cara mengenali dan membaca jenis atau tingkat racun (Lethal Dosage/LD) pestisida yang mereka beli, karena pestisida juga mirip obat-obatan, ada yang ringan hingga yang keras. Bisa jadi penjualnyapun tak mengerti akan makna tanda atau corak warna pada kemasan pestisida yang sebenarnya simbol tingkat/kekuatan racun pestisida. Atau jangan-jangan memang seperti itulah yang diinginkan pabrikan pestisida???.
Masih ingatkah kita akan Revolusi Hijau yang meledak di negeri Bollywood beberapa tahun lalu?. Saat itu ketika beragam pestisida sintetis membanjiri India dengan bermacam slogan dan pariwara menarik mampu ‘membujuk’ petani negeri itu hingga akhirnya menjadikan semacam ‘candu’. Tapi sejarah pula yang menulis bahwa peledakan hama menjadi tak terkendali, lebuh buruk lagi karena petani disana masih terus menggunakan pestisida sintetis bahkan mereka rela berhutang untuk itu meski kenyataannya hasil pertanian mereka tidak bisa menutupi biaya produksi. Lebih miris lagi ketika berita kasus petani yang bunuh diri akibat terbelit hutang mengeruak. Inikah Revolusi hijau itu?

Sepak Bola Inggris
Alam selalu mengajarkan kita pada konsep keseimbangan, bila alam dirusak terlampau maka ia akan berbicara dengan caranya sendiri. Semoga saja kisah tragis di atas tidak pernah terjadi di negeri ini. Negeri yang kata orang tongkatpun bisa jadi tanaman. Sebagai negeri tropis yang dipenuhi dengan hutan dan hujan, Indonesia dipenuhi beragam flora yang sebenarnya dapat dimanfaatkan sebagai bahan pengusir hama pertanian alias pestisida nabati. Dewasa ini dunia makin gencar penelitian famili tumbuhan yang dapat digunakan untuk pestisida nabati, lebih dari 1000 jenis tumbuhan.

Konsep yang ramah lingkungan ini sebenarnya telah ada di negeri sejak lama. Kakek buyut kita (termasuk penulis) jauh hari ternyata telah memanfaatkan larutan gadung dan aneka tanaman yang menurut mereka berasa pahit di lidah untuk mengusir hama di sawah dengan metode pembuatan yang sederhana. Diparut atau ditumbuk, kemudian diperas sarinya. Bila ingin lebih mujarab mereka ‘mengubur’ larutan yang telah ditambah sedikit tape beras hitam tersebut kedalam tanah untuk selang 1 minggu. Bahkan ada juga yang membiarkannya hingga musim tanam berikutnya. So easy n simple. Sayangnya, cara-cara buyut kita yang wise itu perlahan pudar akibat maraknya produk pestisida sintetis yang memang lebih praktis.

Sampai hari ini, produk pestisida nabati aman bagi manusia, hewan, dan lingkungan. Mengacu gaya permainan sepak bola Inggris, Kick n Run, aplikasi pestisida nabati bersifat cepat mengusir hama untuk kemudian residunya lekas lenyap oleh panas matahari. Dalam kasus yang termasuk kejadian luar biasa, aplikasi pestisida nabati harus dilakukan beberapa kali.(Dan inilah celah yang dimanfaatkan pestisida sintetis)

Tak kenal maka tak sayang. Ungkapan ini memang ada benarnya. Beberapa jenis tumbuhan dapat digunakan untuk pestisida karena kandungan zat aktifnya dapat yang mempengaruhi sistem saraf dan reproduksi, menghilangkan nafsu makan, komunikasi antar serangga terganggu, bahkan membunuh hama. Misalnya Nimba mengandung zat aktif azadirachtin, papain dalam daun Pepaya, diosgenin pada umbi Gadung, annonain dalam daun Sirsak, atau bahkan nicotine pada Tembakau.

Pembuatan pestisida nabati dapat dilakukan siapapun, tak perlu teori yang ‘njlimet’, yang penting tak segan untuk mengotori tangan sendiri dan sedikit capek. Pertama dengan cara gerus, bakar, tumbuk untuk menghasilkan produk berwujud tepung atau semacam pasta. Cara lainya dengan merendam semua bahan baku dalam wadah tertutup dan didiamkan 3 hingga 7 hari untuk menghasilkan produk berwujud larutan.

Pengalaman (penulis) membuktikan bahwa pestisida nabati ternyata memiliki kemampuan yang sebanding dengan pestisida sintetis. Cara pembuatan pestisida nabati yang kedua dipilih penulis dengan pertimbangan larutan lebih ‘matang’ karena telah mengalami fermentasi dalam wadah tertutup dan keyakinan penulis pastinya daya usir atau daya bunuhnya lebih kuat. Bahkan untuk membuat larutan yang tahan penyimpanan hingga 1-2 tahun, penulis mengkondisikan wadah larutan dalam keadaan ‘anaerob’, dan pelarut bahan bakunya menggunakan pelarut ‘organik’. Diujung proses pembuatan penulis memoles larutan hasil dengan teknik pasteurisasi dan penambahan alkohol sedikit. (jadi ga perlu lagi pake tape beras kaya buyut penulis dulu).

Saksi Alam
Memang belum banyak jenis tanaman yang telah penulis uji coba, baru 6 jenis tanaman yakni daun pepaya, daun mindi, biji nimba, umbi gadung, sirsak, dan debu tembakau. Hasil uji lapang juga bervariasi, tidak semua yang dikatakan dalam buku-buku pedoman pembuatan pestisida nabati yang sekarang banyak beredar itu benar, atau bisa juga penulis yang kurang tepat dalam cara ataupun waktu aplikasinya. Tapi yang pasti, pestisida nabati memberikan kepuasan tersendiri (terutama bagi penulis) baik saat pembuatan maupun saat analisa hasil lapangan.

Pesnab ekstrak daun Pepaya dan daun Mindi ternyata kemampuan mengusir ulat spodoptera sp. ataupun kutu daun tergolong tidak memuaskan bahkan untuk dosis yang besarpun hasilnya juga serupa.

Secara teori, kandungan azadirachtin dalam Ekstrak biji Nimba sebenarnya mempu mengusir banyak ragam hama dan penyakit. Mulai belalang, ulat tanah, ulat grayak, hingga kutu daun. Lagi-lagi (menurut penulis), hasil lapangan tergolong sedang-sedang saja. Sisten kerja tangkalnya bekerja lama, hampir 72 jam setelah penyemprotan (pada tanaman tembakau) ternyata ulat grayak masih ada di daun meski tampak tak menunjukkan ‘aktivitas’nya. Ampas sisa perasan biji Nimba ternyata memuaskan. Ulat tanah terusir (bahkan ada yang mati), dan disaat yang sama pertumbuhan tanaman (tembakau) lebih baik dibanding yang tak diberi ampas Nimba. Entah ini hanya ‘kebetulan’ saja atau memang ampas Nimba dapat berfungsi sebagai pupuk organik juga ?.

Gadung (yang tak banyak diperbincangkan) justru hasilnya tergolong memuaskan. Beragam kutu daun dan kutu penghisap seperti aphids -sebagai vektor penyakit- dapat lagsung terusir dan ada juga yang mati di tempat hanya dalam waktu kurang satu jam. Hanya butuh 2.5 kg parutan umbi Gadung dicampur 1 liter air untuk menghasilkan larutan dengan dosis pakai 1 gelas air mineral untuk 1 tangki standar (kapasitas 14 liter).

Annonain dalam daun Sirsak juga mujarab untuk hama jenis ulat grayak ataupun ulat daun. Reaksinya juga cepat. Hanya memang tidak begitu efektif untuk mengatasi kutu daun dan kutu penghisap. 1,5 kg daun Sirsak ditumbuk dan direndam dalam 1 liter air selama 1-3 hari dapat diaplikasikan langsung di lahan dengan takaran 1 gelas air mineral pesnab sirsak untuk 1 tangki semprot.

Tembakau, dengan kandungan nicotine 2-8% baik dalam wujud daun basah ataupun berbentuk kering sehalus debu efektif untuk menangkal serangan ulat grayak dan kutu penghisap. Bahkan pengalaman penulis menjumpai beberapa belalang mati ditempat keesokan hari setelah dilakukan penyemprotan. Dosis khir larutan juga serupa, 1 gelas = 1 tangki. Kita hanya perlu merendam 1 kg tembakau kering (jenis apa saja) dan 3 liter air –air kelapa lebih bagus- untuk pesnab yang luar biasa ini.

Singkat Saja….
Jangan takut untuk mencoba. Jangan percaya kata orang. Buktikan

Sofyan Ashari.

4 tahun  ini berkecimpung dalam bidang pertanian Tembakau.

Berdomisili di daerah yang hidup dari pertanian Tembakau.

Jember.

1 Response to “REVOLUSI HIJAU : PESSIN Vs PESNAB”


  1. 1 Mr_brend Agustus 2, 2010 pukul 15:50

    Dari photonya meras tebel panjang tuh daun,baleno ya.??
    Boleh kopi darat dong ???.Podo de’jember e’


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




TENTANG AKU

Januari 2010
S S R K J S M
« Sep   Feb »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

NGOBROL DG AKU

Blog Stat

  • 3,846 hits

Tulisan Teratas

Klik tertinggi

  • Tidak ada

Arsip


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: